Penyebaran Agama Islam

Akal dan Islam sendiri memiliki hubungan yang erat. Islam memerintahkan manusia untuk terus mencari ilmu dan mengembangkannya. Sumber : berdoa.co.id

Perintah ini juga ada dalam Alquran, seperti dalam Sura al-Alaq dan Sura Shad ayat 29. Dalam satu hadits, Rasulullah berserah kepada pikiran manusia untuk berurusan dengan urusan dunia yang terperinci dan teknis.

Islam selalu memiliki dan mendorong, mendorong dan bahkan memerintahkan manusia untuk selalu menggunakan pikiran mereka untuk berpikir.

Selain menjadi sarana mengenal Tuhan, dengan tidak berpikir, akan mudah membuat Anda jatuh dalam hal-hal yang ganas dan marah kepada Tuhan. Seperti jatuh ke dalam penyembahan berhala, bergaul dengan Tuhan dan menyesatkan umat manusia lainnya.

Selama periode al-Khulafa ar-Rashidin, serta kekhalifahan setelahnya, banyak ilmuwan Muslim memberikan kontribusi besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Peran mereka, juga sebagai sarana penyebaran Islam melalui pendidikan, baik di wilayah Khilafah maupun di sekitarnya.

Misalnya, hanya negara Islam di Andalusia saat itu. Pengaruh sains bisa membasmi Eropa yang masih terbelakang.

Penyebaran Agama Islam

Ilmuwan Muslim berkontribusi pada banyak bidang sains, misalnya:

Ibnu Sina, berjasa di bidang ilmu kedokteran
Al Khawarizmi di bidang matematika
Ibnu Rusyd yang memiliki pengetahuan ensiklopedis
Al Mawardi, Zaid bin Ali, Abu Hanifah, Ibnu Taimiyah di bidang ekonomi

Dan masih banyak ilmuwan Muslim yang belum disebutkan, yang kontribusinya tidak kalah penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Penyebaran Islam melalui tasawuf

Sufisme adalah ajaran untuk mendekati dan mengenal Tuhan Yang Mahakuasa dan menemukan keaslian. Dalam tasawuf, tidak ada bentuk lain selain bentuknya, di mana pun Anda memandang, wajah Tuhan akan muncul.

Semuanya, baik di bumi maupun di langit, hanya ada satu bentuk yang benar dan esensial. Allah, atau lebih tepatnya, pemilik nama Allah. Konsep ini lebih dikenal sebagai Wahdah al-Wujud (Unity of being).

Tasawuf itu sendiri berkembang hanya setelah sahabat dan tabiin. Sebelum itu, tasawuf tidak terlalu penting, karena pada waktu itu mereka adalah orang-orang yang ahli dalam ibadah, ahli dalam taqwa dan ahli dalam wara.

Mereka bersaing satu sama lain untuk meniru semua aspek Nabi, mereka secara otomatis sufi, yang hidupnya hanya untuk Tuhan.

Berdasarkan data historis, pada kenyataannya, tasawuf bukanlah ilmu baru dalam Islam. Memang tasawuf itu sendiri adalah bagian dari maqam ihsan, sedangkan ihsan adalah salah satu agama dasar, yaitu Islam, Iman dan Ihsan.

Karenanya, asal mula penyebaran Islam melalui tasawuf tidak datang dari berbagai filosofi palsu atau sumber kuno.

Di antara angka-angka ini adalah:

Abu Hamid al-Ghazali
Abdul Qadir al-Jazairi
Ibn Athaillah as-Sakandari
Abdul Qadir al-Jailani
Abdul Wahab ash-Shafi'rani
Abu Ali di Tsaqafi
Abu Madyan, Ahmad Zaruq
Ali al-Khawas
Syekh Muhammad al-Hasyimi

Penyebaran Islam melalui seni

Seni menjadi salah satu media untuk menyebarkan Islam. Seni lokal yang menyatu dengan Islam akan memiliki karakteristiknya sendiri. Karakteristik ini juga akan berbeda, dari satu daerah ke daerah lain.

Penyebaran Islam melalui seni yang dimaksud bisa dalam bentuk seni bangunan, tari, musik, patung dan sastra. Dengan cara ini, Islam dapat dengan mudah dipahami oleh penduduk setempat.

Islam digabungkan dengan kesenian ini, sejauh ini, masih ada sesuatu yang bisa dilihat dan dihargai dari bukti fisik, baik yang masih utuh atau belum.

Tapi setidaknya, itu menunjukkan bahwa Islam dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.
Penyebaran Islam di Indonesia

Ada tiga teori terkenal tentang masuknya Islam ke Indonesia, yaitu teori Gujarat, Persia dan Arab.

Perbedaan antara ketiga teori ini, kurang lebih, terletak pada tahun masuk ke Indonesia, tokoh pendukung dan pembawa agama Islam masuk ke Indonesia.

Meski berbeda, kesamaan ketiga teori tersebut, mereka juga masuk ke Indonesia melalui misi komersial dan misi itu sendiri.

Dengan penyebaran Islam di Indonesia, kerajaan dan sultan Islam mulai muncul, dari barat ke bagian timur Indonesia.

Kehadiran kerajaan dan kekaisaran ini semakin memperkuat misi dakwah Islam.
Saluran difusi Islam di Indonesia

Berdasarkan urutan sejarah yang masih ada dan berlaku, dimungkinkan untuk mendengarkan deskripsi singkat tentang saluran difusi Islam di Indonesia sebagai berikut:

  1. Perdagangan

Sebelumnya, ada kerajaan Hindu-Budha dengan pelabuhan internasional besar.

Setelah masuknya pedagang-pedagang Muslim ini, hubungan kerajaan-kerajaan setempat tidak hanya hubungan komersial, tetapi mereka meluas untuk membangun hubungan diplomatik.

Doa